Beranda > Demokrasi, Perlawanan, Petualangan, Umum > Hukum demi Keadilan harus ditegakkan kan? (Bag. 2)

Hukum demi Keadilan harus ditegakkan kan? (Bag. 2)

Lanjutannya dari tulisan pertama (walau beda dialog)..

Tak kusangka.. beberapa waktu kemudian ada comment lagi masuk dari OCHA, hiks.. makin sedih aku dibuatnya.. kenapa ? karena bila diliat di Profile-nya, Icha yg manis ini sebenernya ada di LITBANG salah satu Koran terbesar nasional, namun dari isi comment-nya nampak banget dia sedemikian emosional dan meledak2.. :D Seperti inilah
isi comment-nya :

Emang dirimu pernah disakiti Soeharto?
Ada sisi Soeharto bersalah krn membiarkan anak-anak dan kroninya memanfaatkan dirinya sbg presiden.
Tapi jasanya mbangung negeri jg banyak

Toh ada pengadilan lebih adil diakhirat sana yg siapapun ga bs lolos. Pengadilan itu lbh layak buat Soeharto yg udh meninggal.

Mohon kalo liat kesalahan orang yg proporsional, jgn asal terjebak sama kyk intel asing yg mengobrak-abrik menelusup melalui ke tubuh anak negeri..

Sekarang perbolehkan saya memberikan jawaban/tanggapan yah..

Emang dirimu pernah disakiti Soeharto?

ya.. bukan hanya aku.. tapi banyak banget berjuta2 orang yang bukan hanya pernah disakiti, tapi dibantai.. dibunuh.. digusur.. dimiskinkan.. dibebani hutang.. dilanggar HAM-nya, dsb.. dia adalah penguasa sebuah rezim yang punya deretan panjang catatan hitam selama berkuasa. bukan cuma itu, ketika dia lengser-pun, dia meninggalkan sebuah kondisi negeri yang berantakan.. kondisi moneter yang carut marut, ancaman disintegrasi dan timbunan hutang luar negeri yang kebanyakan juga dikorupsi.. kamu gak pernah ngerasain sakit akibat ulah dan kebijakannya yang menggadai Indonesia? kamu gak pernah lihat anak2 yg gak bisa sekolah dan cuma ngamen2 di lampu merah? kamu gak ngeliat kakek2 80-an yg berjualan mainan anak kecil di emperan pasar mayestik? dan sebagainya? siapa yg harus bertanggung jawab?

Ada sisi Soeharto bersalah krn membiarkan anak-anak dan kroninya memanfaatkan dirinya sbg presiden.

Lantas, apa yang sudah Soeharto , anak2nya ataupun kroni2nya lakukan untuk menebus kesalahannya? pernah datang ia ke Pengadilan? siapa dulu yg menggembar-gemborkan ini negara hukum? Lantas, karena Ia Soegarto maka ia kebal hukum? lantas dimana keadilan, kalo maling jemuran aja dibakar hidup2..? kalo ibu2 yg ngutil di pasar aja, harus ditelanjangi dan diarak? siapa yg mengkhianati keadilan kalau begitu?

Tapi jasanya mbangun negeri jg banyak

Bisa kasi contoh apa ya prestasinya ? selain cuma kebohongan2 publik atas berbagai prestasi dan penghargaan yg pernah diraih,, selain kemampuan berkuasa selama 32 tahun diatas tumpukan mayat, darah dan ketakutan rakyatnya.. serta sistem ekonomi yg rapuh yang disusun dari hutang-hutang luar negeri…

Toh ada pengadilan lebih adil diakhirat sana yg siapapun ga bs lolos. Pengadilan itu lbh layak buat Soeharto yg udh meninggal.

Kayaknya, comment dari Kakek bisa menanggapinya.. seperti inilah :

Kalau semua keputusan salah benar diserahkan pada pengadilan di Akhirat sana, lalu untuk apa kita buat negara? Untuk apa Negara bentuk hukum, pengadilan, polisi, jaksa, hakim, penjara, juru sita dll? Pertanyaannya kenapa Maaf tidak diberikan pada maling ayam, maling jemuran atau ibu yang harus mencuri untuk susu anaknya, atau bapak yang harus mencopet untuk sekolah anaknya? Kenapa maaf hanya untuk Soeharto yang jelas-jelas memperkaya diri, membunuh 3 juta Rakyat, menggusur tanah, kebun dan sawah Rakyat, dll. Kenapa para hamba hukum, elit politik sangat pemaaf, punya hati nurani, santun dan bermoral pada Soeharto tapi berubah menjadi Iblis Biadab dan sangat kejam tanpa moral dan nurani pada Pedagang Kaki Lima yang harus berjualan karena kegagalan Negara menyiapkan lapangan kerja atau pada pelacur yang harus menggadaikan harga dirinya karena Negara tidak mampu mensejahterakan Rakyatnya? Ketika ada KETIDAK ADILAN, Hanya ada satu kata “LAWAAAAN!”
Mohon kalo liat kesalahan orang yg proporsional, jgn asal terjebak sama kyk intel asing yg mengobrak-abrik menelusup melalui ke tubuh anak negeri..

Mohon juga mempelajari sejarah dengan benar dan turun langsung bersentuhan dengan realitas.. tidak hanya sekedar berkutat di depan buku atau menghadapi Google.. biar kita tidak terjebak dengan logika2 status-quo.. biar bisa lebih rasional dan lebih proporsional.. selain hanya disesatkan oleh perasaan2 emosional dari sumber2 yang berkepentingan erat dengan pentingnya melindungi diri paska ditinggal Alm.. dan takut kebongkar semuanya.. waspadai bahaya laten Orde baru..

Begitu deh, kira2…

  1. Belum ada komentar.
  1. Belum ada trackback.