Pada suatu masa tentang Keistimewaan di Yogyakarya
Berangkat dari rame2 di Media belakangan ini yang kembali mengusik-usik ketenangan Jogja, dan baca2 di Trit Kaskus disini: [merged thread] polemik seputar keistimewaan Jokja….
Gw jadi inget sesuatu.. sebuah pengalaman hidup yang ane alami dan jalani semasa-masa masih di Jogja dulu.. akhirnya ane bikin riplaian begini :
Ane bukan orang jogja gan.. cuma pernah tinggal dan jadi bagian dari korban gempa jogja di 2004.
![]()
mungkin banyak yang mengartikan bahwa kekuasaan monarkis Sultan berarti sama dengan Anti demokrasi.. salah gan.. gak selamanya betul.. (ane ada baca di postingan berapa ane lupa, ada agan yang menyampaikan, lebih baik rakyat dipimpin monarki tapi mampu memakmurkan dan mencintai serta dicintai rakyatnya, daripada dipimpin pimpinan hasil demokrasi (penuh duit dan korupsi) yang dibenci, suka obral janji dan menyuburkan korupsi.)
Ane pernah alami sendiri, ternyata Sultan, seorang Ngarsa Dalem.. seorang Raja.. yang awalnya ane pikir kesannya serem, penuh kuasa, dikerumuni paspampres :mahos adalah gag seperti yang ane bayangin sebelumnya.. Ane pernah ama temen2 ane di Posko Relawan Peduli Gempa di Daerah Bantul dulu bareng2 Warga menggelar aksi mogok makan di depan gedung DPRD di Malioboro.. menuntut kejelasan nasib dan janji bantuan dari pemerintah pusat yang waktu itu hanya memecah belah persatuan dan tidak sesuai dengan janjinya.. Kami berusaha menemui anggota2 dewan yg katanya wakil kami.. tapi ternyata, kami ta pernah diijinkan masuk ke dalam.. apalagi diterima dan dilayani.. Tak dinyana, tak diduga.. justru Seorang Sultan HB X.. yang begitu mendengar kabar ada warganya yang aksi menuntut hak-nya, langsung Datang.. langsung mendatangi kami.. yag tidur dibawah tenda terpal beralas tikar dibawah pepohonan halaman DPRD itu.. Sultan tanpa ragu, tanpa formalitas, tanpa protokoler dan tanpa persiapan media ataupun kampanye tebar pesona ala pejabat langsung mendatangi, menyalami dan duduk setikar dengan kami.. memulai mengobrol, menanyakan kabar dan mengajak diskusi mencari solusi terbaik buat warganya tersebut.. percaya atau tidak.. karisma Sultan sedemikian membius kami.. dengan ketenangan dan budi bahasa sabar.. laksana seorang Bapak yang benar2 mampu memberikan pengayoman kepada warganya.. bahkan gan.. tukang parkir, tukang becak, pedagang, pengamen, semua bersimpuh duduk mengerubungi Sultan dibawah pohoh beringin depan DPRD itu.. tanpa ada yang mengkoordinir.. tanpa ada yang menyuruh, apalagi mengintimidasi.. Ane rasakan betul aura cinta rakyat kepada pemimpinnya disana gan.. tulus.. tanpa musti menjilat dan sebagainya..
maaf, mungkin OOT, tapi ane sekedar sharing aja.. bahwa itu mungkin salah satu alesan kenapa Jogja sedemikian Istimewa.. Kenapa tak selamanya Monarki itu anti demokrasi dan anti rakyat-nya sendiri.. Dan kalaupun agan2 tadi sempatkan membaca2 postingan mengenai awal dan sejarah status kenapa Yogyakarta menjadi Daerah Istimewa di Republik ini? tentu ane harap agan akan turut memahaminya..
![]()
Satu lagi ane inget kata2 besar dari pemimpin besar yang pernah mendirikan Republik Ini beliau menyatakan Jasmerah.. “Jangan Sekali-sekali Melupakan Sejarah…”
Bagi agan2 yang mungkin berada di luar Yogya, diluar Jawa ataupun dimanapun berada, ane berharap seperti hal-nya ane yang bisa memahami dan menerima berbagai keistimewaan berbagai daerah di Indonesia ini sebagai kekayaan bukan sebagai alasan untuk iri, dengki.. Mohon pahami ini sebagai bagian dari Bhinekka Tunggal Ika yang menjadi pijakan Pancasila itu gan… :shakehand2 :iloveindonesia
Link aslinya postingan ane : http://www.kaskus.us/showpost.php?p=322375711&postcount=1800 jangan lupa ijo-ijonya ya gan..
Posted on 1 December 2010, in Apa Aja, Demokrasi, Inspirasi, Perlawanan, Petualangan, Umum. Bookmark the permalink. Leave a Comment.
Leave a Comment
Comments (0)