Arsip

Archive for the ‘Petualangan’ Category

Hukum demi Keadilan harus ditegakkan kan? (Bag. 2)

Januari 30, 2008 wismoyo Tinggalkan komentar

Lanjutannya dari tulisan pertama (walau beda dialog)..

Tak kusangka.. beberapa waktu kemudian ada comment lagi masuk dari OCHA, hiks.. makin sedih aku dibuatnya.. kenapa ? karena bila diliat di Profile-nya, Icha yg manis ini sebenernya ada di LITBANG salah satu Koran terbesar nasional, namun dari isi comment-nya nampak banget dia sedemikian emosional dan meledak2.. :D Seperti inilah
isi comment-nya :

Emang dirimu pernah disakiti Soeharto?
Ada sisi Soeharto bersalah krn membiarkan anak-anak dan kroninya memanfaatkan dirinya sbg presiden.
Tapi jasanya mbangung negeri jg banyak

Toh ada pengadilan lebih adil diakhirat sana yg siapapun ga bs lolos. Pengadilan itu lbh layak buat Soeharto yg udh meninggal.

Mohon kalo liat kesalahan orang yg proporsional, jgn asal terjebak sama kyk intel asing yg mengobrak-abrik menelusup melalui ke tubuh anak negeri..

Sekarang perbolehkan saya memberikan jawaban/tanggapan yah..

Emang dirimu pernah disakiti Soeharto?

ya.. bukan hanya aku.. tapi banyak banget berjuta2 orang yang bukan hanya pernah disakiti, tapi dibantai.. dibunuh.. digusur.. dimiskinkan.. dibebani hutang.. dilanggar HAM-nya, dsb.. dia adalah penguasa sebuah rezim yang punya deretan panjang catatan hitam selama berkuasa. bukan cuma itu, ketika dia lengser-pun, dia meninggalkan sebuah kondisi negeri yang berantakan.. kondisi moneter yang carut marut, ancaman disintegrasi dan timbunan hutang luar negeri yang kebanyakan juga dikorupsi.. kamu gak pernah ngerasain sakit akibat ulah dan kebijakannya yang menggadai Indonesia? kamu gak pernah lihat anak2 yg gak bisa sekolah dan cuma ngamen2 di lampu merah? kamu gak ngeliat kakek2 80-an yg berjualan mainan anak kecil di emperan pasar mayestik? dan sebagainya? siapa yg harus bertanggung jawab?

Ada sisi Soeharto bersalah krn membiarkan anak-anak dan kroninya memanfaatkan dirinya sbg presiden.

Lantas, apa yang sudah Soeharto , anak2nya ataupun kroni2nya lakukan untuk menebus kesalahannya? pernah datang ia ke Pengadilan? siapa dulu yg menggembar-gemborkan ini negara hukum? Lantas, karena Ia Soegarto maka ia kebal hukum? lantas dimana keadilan, kalo maling jemuran aja dibakar hidup2..? kalo ibu2 yg ngutil di pasar aja, harus ditelanjangi dan diarak? siapa yg mengkhianati keadilan kalau begitu?

Tapi jasanya mbangun negeri jg banyak

Bisa kasi contoh apa ya prestasinya ? selain cuma kebohongan2 publik atas berbagai prestasi dan penghargaan yg pernah diraih,, selain kemampuan berkuasa selama 32 tahun diatas tumpukan mayat, darah dan ketakutan rakyatnya.. serta sistem ekonomi yg rapuh yang disusun dari hutang-hutang luar negeri…

Toh ada pengadilan lebih adil diakhirat sana yg siapapun ga bs lolos. Pengadilan itu lbh layak buat Soeharto yg udh meninggal.

Kayaknya, comment dari Kakek bisa menanggapinya.. seperti inilah :

Kalau semua keputusan salah benar diserahkan pada pengadilan di Akhirat sana, lalu untuk apa kita buat negara? Untuk apa Negara bentuk hukum, pengadilan, polisi, jaksa, hakim, penjara, juru sita dll? Pertanyaannya kenapa Maaf tidak diberikan pada maling ayam, maling jemuran atau ibu yang harus mencuri untuk susu anaknya, atau bapak yang harus mencopet untuk sekolah anaknya? Kenapa maaf hanya untuk Soeharto yang jelas-jelas memperkaya diri, membunuh 3 juta Rakyat, menggusur tanah, kebun dan sawah Rakyat, dll. Kenapa para hamba hukum, elit politik sangat pemaaf, punya hati nurani, santun dan bermoral pada Soeharto tapi berubah menjadi Iblis Biadab dan sangat kejam tanpa moral dan nurani pada Pedagang Kaki Lima yang harus berjualan karena kegagalan Negara menyiapkan lapangan kerja atau pada pelacur yang harus menggadaikan harga dirinya karena Negara tidak mampu mensejahterakan Rakyatnya? Ketika ada KETIDAK ADILAN, Hanya ada satu kata “LAWAAAAN!”
Mohon kalo liat kesalahan orang yg proporsional, jgn asal terjebak sama kyk intel asing yg mengobrak-abrik menelusup melalui ke tubuh anak negeri..

Mohon juga mempelajari sejarah dengan benar dan turun langsung bersentuhan dengan realitas.. tidak hanya sekedar berkutat di depan buku atau menghadapi Google.. biar kita tidak terjebak dengan logika2 status-quo.. biar bisa lebih rasional dan lebih proporsional.. selain hanya disesatkan oleh perasaan2 emosional dari sumber2 yang berkepentingan erat dengan pentingnya melindungi diri paska ditinggal Alm.. dan takut kebongkar semuanya.. waspadai bahaya laten Orde baru..

Begitu deh, kira2…

Akhirnya, tiba saat untuk beranjak ke depan…

November 4, 2006 wismoyo Tinggalkan komentar

Setelah penantian panjang yang melelahkan, akhirnya tadi pagi (saat baru terbangun dan masih sekitar 45% dalam pengaruh alkohol sisa semalam) aku mendapatkan SMS yang membuka kembali harapan untuk bisa segera beranjak… pergi lagi… melanglang jagad kembali…coba melanjutkan hidupku sendiri dan  menggoreskan sejarahku sendiri…

Tidak lama lagi aku akan segera meninggalkan kota ini… kota penuh makna yang walau cukup singkat (sktr 1,5 tahun ) aku disini, tapi ada banyak hal yang aku dapatkan… aku mencintai kota ini… aku menyayangi semua yang  ada disini… tapi, bukan berarti aku harus hidup dan menjalani hari2ku cuma disini…

Aku akan kembali ke tempat dimana ada sebuah kota yang juga menjadi cintaku dan menjadi tumpuan harapanku… tempat dimana aku akan kembali menggali nilai-nilai hidup dengan cara dan keyakinanku sendiri…  tapi sekali lagi, aku masih mencintainya…

Iya… dalam beberapa hari lagi… aku akan menyelesaikan semua tanggung jawab yang masih tertunda di kota ini…, berkemas-kemas dan pergi…

Selamat tinggal segala kebosananku… selamat tinggal pekerjaan menjemukan… selamat tinggal kawan-kawanku… selamat tinggal pantaiku… gunungku… jalan-jalanku… kenangan-kenanganku… penderitaanku… kegembiraanku…

Selamat tinggal Yogyakartaku… Aku akan merindukanmu… aku akan merindukan semuanya… dan aku toh tidak selamanya pergi… aku akan masih sering menjengukmu… melalui jalan-jalanmu… mengunjungi pantai-pantaimu.. menongkrongi tongkrongan-tongkronganmu… dan membukai semua kenangan-kenangan saat aku masih bersamamu…

:-(

“Patah Hati itu Indah…” (Gerimis malam di Malioboro)

Oktober 19, 2006 wismoyo 10 komentar

Setelah kedatangan dua orang kawan, yang baru datang dari jakarta, maka kami pun memutuskan jalan-jalan sambil menikmati suasana malam jogja yang tenang… di tengah jalan kemudian kami sepakat untuk mencari “Amer” sebagai teman nongkrong kami nanti di depan Gedung Agung… setelah putar-putar, Jl. Paris – Katamso – Gondomanan – Pakualaman – Lempuyangan – Jl.Mataram, Bunderan PLN Tugu dan akhirnya baru dapet di warung depan Stasiun Tugu/Sarkem.
Di sepanjang jalan kami mengobrol, ketawa-ketiwi, menumpahkan semua yg ada dalam kepala ataupun dada kami… ha..ha…ha… dan isyu utama yg kami bahas adalah persoalan “Patah Hati bagi Laki-laki” ha…ha…
Obrolan tersebut sangat pas, karena suasana dan iklim juga mendukung… Tiba-tiba kami merasakan ada titik-titik air yang jatuh menimpa kami dan menebarkan Aroma Khas hujan yang menyesakkan dada dan membuat sesuatu yang beda dalam otak kami… yang membuat semua obrolan semakin bersemangat dan lebih jujur… mulai terbuka dengan peristiwa-peristiwa pribadi (yg selama ini bagi kaum laki2 agak tabu membicarakannya bersama)yang erat berkaitan dengan titik-titik air dari langit… apalagi kalo bukan pengalaman2 patah dan kusutnya hati yang dilampiaskan ditengah hujan… ha…ha..ha… dasar!!! sok tangguh!!! ternyata semua (kami ber3) hampir mempunyai pengalaman buruk tetapi sangat manis dan nikmat… yang kami juga jujur merindukan moment2 “kehancuran” dan “kehilangan” seperti itu… ha..ha…
Kami pun sudah sampai di depan Gdg Agung, Malioboro. Obrolan kami pun dilanjutkan di tengah guyuran hujan yg mulai menderas… tetapi ada sesuatu kesepakatan bersama tanpa suara untuk tetap bertahan diguyur hujan dan mencoba merasakan kembali kenangan2 yang pernah kami rasakan… akhirnya kami cuma berteduh di bawah2 palem dan menghisap rokok serta mulai membuka botol pertama kami…
baru kami mulai mengobrol, kami terkesima… dari seberang kami saksikan sepasang insan yang berumur lanjut, dengan mesra dan penuh kasih dalam dekapan dibawah guyuran air yang jatuh dengan keliatan roman2 muka bahagia… dengan pancaran mata penuh kasih… yang sungguh2 membuka mata kami dan seakan2 menunjukkan pada kami “Ini lho CINTA wahai anak-anak muda…”
ya… kawanku menimpali dengan setulusnya… itulah cinta… yang tak takkan terganggu dengan air hujan… bahkan alkohol akan semakin menguatkan ikatan kasih itu… ha..ha… sok mello sih memang… tapi jangan munafik jugalah…

kami melanjutkan minum, merokok dan mengobrol tentang banyak hal… menikmati pandangan gadis2 malam malioboro dan sesekali menyaksikan pengendara motor/mobil yang melintas… memandangi gemerlap lampu BI dan Kantor Pos.. sesekali beranjak ke pagar istana dan kecing disitu… dan sering kali aku berfikir, kapan lagi bisa mengencingi pagar istana negara dibawah tatapan paspampres yang ada di pos-nya… ha…ha… cuma di Malioboro itu bisa dilakukan…
Kami juga membahas tentang semakin tergerusnya suasana kebebasan berekspresi dan kebersamaan yang menjadi khasnya malioboro… bahwa sekarang sering terjadi tawuran karna hal-hal gak jelas dan seringnya razia oleh polisi dan Pol PP yang sudah tidak pandang bulu… bahkan sering salah sasaran… sehingga penikmat dan pencari inspirasi ataupun mengolah dirinya di malioboro jadi gak bisa melakukan aktivitasnya dengan tenang… karena was-was tiap waktu bakal kena garukan… memprihatinkan…
Ahh… botol pertama abis dan datang satu kawan lagi dan ikut nimbrung… obrolan pun berlanjut dengan diselingi joke-joke yang kadang berbau filosofis sampai berbau pornografi… ha..ha..ha… biasalah obrolan laki-laki…
Oh iya… lupa… hujan yang mengguyur tadi udah reda dan sekarang jadi rintik2 kecil aja… dan kami tetap saja bertahan dengan baju, celana dan jacket yg basah.. dasar kami sudah gila kali yaa…
setelah terus melanjutkan obrolan tentang arti perkawanan, persahabatan dan lain sebagainya sambil terus juga diiringi kepulan2 asap rokok dan tenggakan amer… akhirnya terdengar lamat2 imsak di kejauhan… dan kami pun cukup sudah menikmati malam hujan dengan beribu obrolan di Malioboro ini…
Yah… lumayan menyegarkan otak kami, dengan beribu inspirasi baru muncul yang tidak sabar segera ingin aku kerjakan…
Satu hal… kami mengeluarkan teori baru… “Patah Hati itu Indah…”